Di tahun 2026, banyak seller mulai menghadapi paradoks yang cukup mengkhawatirkan seperti penjualan meningkat, tetapi keuntungan justru tidak ikut bertumbuh. Dalam beberapa kasus, bahkan margin terasa semakin tipis meskipun order terus masuk setiap hari.
Fenomena ini bukan sekadar persepsi. Data industri menunjukkan bahwa total biaya di marketplace jika digabung antara komisi, layanan, dan promosi bisa mencapai 15% hingga 25% per transaksi. Artinya, dari setiap Rp1.000.000 penjualan, hingga Rp250.000 bisa langsung terpotong sebelum menghitung biaya produksi dan operasional.
nilah titik di mana banyak seller mulai bertanya “Apakah bisnis saya benar-benar berkembang, atau hanya berputar di tempat?”
Kenapa Seller Mulai Meninggalkan Marketplace?
Salah satu hal yang sering tidak disadari adalah bahwa biaya marketplace tidak datang dalam satu bentuk, melainkan terpecah dalam beberapa komponen kecil yang jika dijumlahkan menjadi besar.
Secara umum, potongan terdiri dari:
- komisi platform (sekitar 4%–10%)
- biaya layanan tambahan (±2%–6%)
- biaya iklan yang semakin kompetitif
- serta biaya transaksi dan operasional lainnya
Dalam praktiknya, banyak seller “dipaksa” menggunakan iklan agar tetap terlihat di tengah persaingan. Akibatnya, biaya yang awalnya terlihat kecil bisa berkembang menjadi total potongan hingga 20% bahkan lebih. Ini yang membuat banyak pelaku usaha tidak sadar bahwa margin mereka perlahan terkikis dari dalam.
1. Margin Tergerus Fee yang Terus Naik
Banyak seller mulai menyadari bahwa semakin besar penjualan, semakin besar pula potongan yang harus dibayarkan.
Dengan total fee yang bisa mencapai 15%–25% per transaksi, margin bisnis menjadi semakin tipis.  Dampaknya: seller harus menaikkan harga atau mengorbankan keuntungan.
2. Ketergantungan pada Sistem Platform
Marketplace mengontrol hampir semua aspek:
- visibilitas produk
- algoritma pencarian
- hingga akses ke pelanggan
Artinya seller tidak benar-benar “memiliki” bisnisnya sendiri
Jika algoritma berubah atau akun bermasalah, penjualan bisa langsung turun drastis.
3. Persaingan Tidak Sehat (Perang Harga)
Karena semua seller berada di satu platform:
- produk serupa sangat mudah dibandingkan
- harga menjadi faktor utama
- margin semakin ditekan
Akibatnya banyak seller terjebak dalam perang harga yang tidak sehat
4. Harus Bayar Lebih untuk “Terlihat”
Di marketplace, jualan saja tidak cukup.
Agar produk muncul, seller sering harus:
- menggunakan iklan berbayar
- ikut promo atau campaign
- memberikan diskon tambahan
5. Hubungan dengan Customer Terbatas
Marketplace membatasi interaksi langsung:
- data customer tidak sepenuhnya dimiliki seller
- sulit membangun loyalitas jangka panjang
Padahal dalam bisnis:
customer repeat adalah kunci profit
Kenapa Fee Marketplace Terus Naik?
Kenaikan biaya di marketplace bukan tanpa alasan. Ekosistem digital saat ini semakin kompleks, dengan kebutuhan besar untuk:
- subsidi promo dan cashback
- biaya logistik dan gratis ongkir
- pengembangan teknologi platform
- serta persaingan antar seller yang semakin ketat
Namun di sisi lain, model bisnis ini membuat beban biaya secara tidak langsung dialihkan ke seller. Bahkan, banyak laporan menunjukkan bahwa UMKM mulai mencari alternatif karena tekanan biaya yang semakin tinggi.Â
Perubahan Tren: Rekber Menjadi Jalur Alternatif Seller Saat Ini
Di tengah tekanan margin, mulai terlihat perubahan perilaku yang cukup signifikan di 2026. Banyak seller tidak lagi bergantung sepenuhnya pada marketplace, tetapi mulai membangun channel sendiri.
Beberapa pola yang mulai muncul:
- transaksi langsung melalui WhatsApp atau media sosial
- penggunaan komunitas atau grup untuk jual beli
- sistem transaksi yang lebih fleksibel dan minim biaya
Tujuannya jelas:
mengurangi ketergantungan pada sistem yang memotong margin terlalu besar.
Di sinilah sistem rekening bersama (rekber) kembali mendapatkan perhatian. Di tengah biaya platform yang terus naik, rekber menawarkan pendekatan yang lebih sederhana namun efektif.
Dalam sistem ini:
- pembeli dan penjual terhubung langsung
- transaksi diamankan oleh pihak ketiga (admin)
- dana hanya diteruskan setelah transaksi selesai
Keunggulan utamanya:
- biaya jauh lebih rendah dibanding marketplace
- tidak ada potongan berlapis (komisi + iklan)
- fleksibel digunakan di berbagai channel
- tetap menjaga kepercayaan dalam transaksi
- Hubungan lebih dekat dengan customer
- Kontrol penuh atas bisnis
Dengan kata lain, seller bisa menjaga margin tanpa harus menaikkan harga jual secara agresif.
Banyak pelaku usaha masih terjebak pada mindset lama:
“yang penting ramai dulu”
Padahal di era sekarang, yang lebih penting adalah:
“berapa keuntungan yang benar-benar tersisa”
Karena:
- traffic tinggi tanpa profit = tidak sustainable
- margin sehat = bisnis bisa bertahan dan berkembang
Ini yang mulai disadari oleh seller generasi baru di 2026.
Kenaikan fee marketplace hingga 15%–25% per transaksi menjadi sinyal bahwa model bisnis digital sedang berubah. Tidak lagi hanya soal volume penjualan, tetapi tentang bagaimana mengelola biaya dan menjaga margin tetap sehat.
Di tengah perubahan ini, peluang tetap terbuka bagi seller yang:
- lebih adaptif terhadap tren
- lebih cermat membaca struktur biaya
- dan berani mencoba alternatif yang lebih efisien
Rekber bukan sekadar metode lama yang kembali populer,
melainkan bagian dari solusi baru dalam menghadapi realita bisnis 2026.
Karena pada akhirnya, bisnis yang bertahan bukan yang paling ramai tetapi yang paling efisien dan menguntungkan.Â









